Media Ibukota

Aneka Informasi penting nasional dan dunia.

  • Home
  • Features
    • Shortcodes
    • Sitemap
    • Error Page
  • Seo Service
  • Documentation
  • Download This Template

CATEGORY >

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

 

Catatan Rizal Effendi

SAYA tak mengira launching buku saya “Bukan Pak Wali Lagi” di Kedai Kong Djie, Citra Niaga Samarinda, Rabu (7/9) malam jadi reuni meriah para tokoh. “Sekalian reuni alumni Universitas Mulawarman,” kata Gubernur Isran Noor. Maklum yang datang sebagian besar jebolan Unmul. Isran sendiri adalah ketua ikatan alumni. Saya ketua IKA FEB. Malah owner Kong Djie, Elita juga dari kampus yang sama.



Rektor Unmul yang hadir, Prof Dr Masjaya, M.Si tampak berbunga-bunga. “Sekalian saya undang mengikuti rangkaian acara Dies Natalis ke-60 Unmul, 27 September mendatang,” kata Masjaya. Itu juga dies natalis terakhir dia setelah 8 tahun menjadi rektor. Penggantinya Dr Ir Abdunnur, M.Si, asli Samarinda, putra  tokoh ulama kharismatik, KH Sabranity.



“Saya juga alumnus Unmul karena S2 saya di kampus ini, meski S1 dan S3-nya di UI,” kata Dr Sabri Ramdhani yang turut hadir. Pengusaha Balikpapan ini pernah memimpin Perusda Kaltim, pada era Gubernur Suwarna AF. Isran menyebutnya sebagai pengusaha ferry di Kariangau, sebab  salah satu usaha Sabri memang di bidang itu.

Selain Sabri, hadir juga mantan gubernur Kaltara Dr Irianto Lambrie, alumnus Fakultas Pertanian Unmul. Dirut Bankatimtara M Yamin dari fakultas ekonomi. Ketua harian IKA FEB pengusaha muda Apri Gunawan. Sejumlah dosen Unmul di antaranya Dr Aji Sofyan Effendi dan Dr Fitriadi, dan mantan pejabat Kaltim dan seniman Drs Syafruddin Pernyata, MHum. “Kami sama-sama… tidak saja di kampus, aktivis,  tapi juga dalam dunia pers,” kata Irianto, yang juga pernah menjadi Sekprov Kaltim.



 

Saya juga menaruh respek atas kehadiran Ketua DPRD Kaltim Drs H Makmur HAPK, MM. Padahal lelaki berdarah biru yang bernama lengkap Drs H Makmur Haji Aji Pangeran Kahar, MM,  ini beberapa jam sebelumnya tengah berada di Tanjung Redeb, Berau. Juga sesepuh Kaltim dan Nasdem, H Harbiansyah Hanafiah, yang harus terbang dari Jakarta. “Saya ingat disuruh membaca puisi di Sporthall Segiri. Harbi, harapan bangsa Indonesia,” kata Harbiansyah yang pernah bersama-sama saya menjadi anggota MPR Utusan Daerah.

 

 

Wagub Hadi Mulyadi dengan “segudang” pantunnya juga datang. Dia  langsung berpantun. Gubernur sempat mencandai Wagub. Melihat sesuatu di panggung.  Maksudnya kok tak ada alat musik drum. Kalau ada drum itu pasti digebuk Hadi bertubi-tubi.

Juga datang Wali Kota Samarinda Dr Andi Harun masih mengenakan pakaian kerja, didampingi Sekkot Samarinda Hero Mardanus Satyawan.  “Selesai rapat anggaran kami langsung ke sini,”. Hadir juga Kepala Badan Pendapatan Daerah Kota Samarinda Hermanus Barus, SE M.Si. Malah Andi Harun sempat begadang sampai tengah malam di teras Kedai Kong Djie.

 

Makmur lagi menjadi pusat perhatian terutama dari awak media. Banyak wartawan yang hadir malam itu membicarakannya, di antaranya Intoniswan, Charles Siahaan, Abdurrahman Amin, Sofyan Masykur, Hamdani, dan Sekretaris PWI Wiwid Marhaendra.  “Pak Makmur, ketua DPRD yang ‘baru’,” kata Gubernur Isran setengah bercanda.

Seperti kita ketahui Golkar ingin mengganti Makmur dari kursi ketua DPRD Kaltim. Penggantinya Hasanuddin Mas’ud. Pelantikan dijadwalkan 12 September ini di Hotel Mercure. Tapi sebagian pihak melihat hal itu niscaya terhalang karena turunnya putusan PN Samarinda, yang membatalkan rencana tersebut. “Terima kasih atas doa dan dukungannya,” kata Makmur merendah.



Hadir juga owner Mesra Group, Yusi Ananda dan istri, putra tokoh Kaltim H Rusli, yang juga pemilik Hotel Mesra. Sejumlah kepala dinas dan Humas termasuk Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Drs Agus Tianur dan Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Drs M Syafranuddin, MM.

Ada juga Ketua KNPI Kaltim Arif Rahman Hakim, S.Hi dan Ketua Kadin Kaltim Dayang Dona Faroek. “Salam dari ayahanda, Pak Awang Faroek,” kata Dona. Pak Awang, mantan gubernur yang sekarang menjadi anggota DPR RI dapil Kaltim dari Nasdem.



PESTA LEMPENG

Saya sengaja memilih launching buku saya di Kedai Kong Djie. Maklum kedai ini menyediakan menu zaman baheula, yang tak ada di tempat lain yaitu lempeng. Makanan yang dibuat dari pisang. Ada yang bilang itu pizza masa silam. Ternyata penganan bahari itu juga  disukai Gubernur Isran. “Saya sering dikirimi,” katanya. Semasa kecil dahulu, ibu saya sering membuat lempeng untuk sarapan pagi.

Isran yang datang paling awal mendahului semua undangan, langsung melahap lempeng Kong Djie. Dia memuji ada alumnus Unmul berani jualan lempeng.  Saya kira malam kemarin itu, lebih seratus lempeng dinikmati para undangan. Suasana kedai sangat terasa guyub dan gembira. Isran sendiri duduk berbaur, tak perlu ada kursi khusus. “Di sini tak ada gubernur, santai saja,” katanya.

Pembawa acara Ririz, yang saya datangkan dari Bali juga bersemangat. Dia asal Balikpapan, yang sekarang tinggal di sana. Saya bilang dia lagi go international, sebab Bali sedang membutuhkan banyak pembawa acara atau presenter berkaitan dengan dilaksanakannya pertemuan pemimpin dunia, G-20 dalam waktu dekat ini. “Yang ingin pakai Ririz, silakan hubungi manajernya Anggun,” kata saya mempromosikan.

Buku saya setebal 413 halaman itu, memang saya tulis setelah saya tak lagi menjadi wali kota. Masa jabatan kedua saya sebagai wali kota Balikpapan, berakhir 31 Mei 2021. Belakangan saya banyak menulis, lalu teman-teman meminta saya dikumpulkan menjadi buku. Ada 64 tulisan di situ, sesuai dengan HUT saya ke-64, tanggal 27 Agustus lalu. Ada tulisan pengantar dari Zainal Muttaqin dan penulis kawakan, bos saya Pak Dahlan Iskan.

 


Tim penyusun buku itu, di antaranya Syafril TH Noer, wartawan yang juga ketua Dewan Kesenian Kaltim. Ada “Jenderal” Sjarifuddin Hs sebagai editor bahasa. Ada putra sulung Syafruddin Pernyata, yakni Ramadhan S Pernyata yang menjadi  ilustrator.  Saya juga disemangati Ketua PWI Kaltim Endro S Effendi, yang datang walau acara sudah berakhir. “Buku Pak Rizal saya akan kirim ke Dewan Pers untuk menunjukkan bukti bahwa Pak Rizal masih aktif sebagai wartawan senior,” kata Endro. Saya berencana akan menerbitkan buku “Bukan Pak Wali Lagi” edisi kedua menyambut HUT ke-66 Provinsi Kaltim, 10 Januari 2023. Ada 66 tulisan tengah saya siapkan. Tentu lebih banyak soal Kaltim, yang menjadi lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN). Pak Isran sangat mendukung. Dia mengajak yang lain juga menulis buku. Isran sendiri sudah menulis beberapa buku dan bahkan menjadi rujukan di salah satu universitas di Negeri Kanguru.  

Buku Isran sudah terbit sejak tahun 2012. Di antaranya “Politik Otonomi Daerah untuk Penguatan NKRI, Cakrawala Gagasan: Dari Daerah untuk Indonesia, Kepemimpinan Progresif: Menghindari Perangkap Sumber Daya Alam dan Daerah Maju Indonesia: Strategi Pembangunan yang Menyejahterakan dan Berkeadilan”.




Saat acara berlangsung malam itu saya memberi Gubernur Isran sebuah figura yang memuat foto dia hanya berdua dengan Presiden Joko Widodo di lokasi IKN. Itu juga bagian ilustrasi dari salah satu tulisan saya. Saat menyerahkan figura itu saya bilang foto ini seakan menggambarkan Presiden Jokowi bersama suksesor alias penggantinya. Isran tampak mengulum senyum. “Insyaallah beliau menjadi tokoh nasional,” timpal Irianto.

Bicara soal buku, saya jadi teringat sebuah joke. Ada seorang istri pagi-pagi penuh semangat menceritakan mimpinya semalam. Dia mendapat hadiah istimewa dari sang suami, cincin berlian yang sudah lama dia idamkan. Dia berharap mimpinya itu benar-benar menjadi kenyataan. Sorenya ketika sang suami pulang kerja, membawa bungkusan kado. “Alhamdulillah,” kata sang istri berbinar-binar. Tapi dia kaget ketika membuka bungkusan. Isinya bukan cincin berlian, melainkan buku tafsir mimpi.(*)

 












 

Share on:
 
Sayang….. Terbersit rindu padamu di malam syahdu. Kala jangrik dan burung hantu melantun syair kesepian. Angin yang mengusap tengkukku datang sebentar mengantar haru lalu pergi menyisakan pilu. Angan ini mengembara menjelajahi kabut biru. Yang bergayutan di pucuk pohon jambu, atau menyusup dari deru jalan berdebu.
 
Sudahlah… jangan terlalu melambung khayalan. Biarkan harapan membentur kenyataan. Jangan kau biarkan ia menjadi angan, supaya bulir hangat di tepi mata tak sampai mengaburkan pandangan. Dan keluh kesah tak mengusik perjuangan.
 
Wahai desir semilir yang kadang hadir. Jika suatu saat kau sempat mampir. Aku ingin menitip seuntai mawar atau serenteng melati agar wanginya bisa kau hantarkan ke pangkuannya. 
 
Sampaikan padanya, bahwa aku tak mungkin lagi kembali. Katakan padanya bahwa yang lalu sudah terjadi. Tegaskan padanya bahwa ia hanyalah goresan kecil diantara banyak tulisan dalam perjalanan hidup ini.
 
Tolong beritahu, bahwa ia sangat istimewa. Namun aku sudah tak mungkin kembali padanya. Aku yang sekarang, bukan masa yang sama dengan dirinya. aku yang kini adalah aku yang  tak mungkin menoleh lagi. Hanya bisa melangkah ke depan dan mempersiapkan bekal untuk sejatinya kehidupan.
 
Ya… aku memang teramat menyayanginya, namun aku tak mungkin lagi menemuinya. Dialah…. MASA REMAJA
 
 
(Abdillah Syafei)
Share on:

Tidak mudah bereaksi apalagi mengeluarkan statemen soal berbagai polemik yang terjadi. Itu mungkin pilihan saya saat ini. Mulai kasus Edi Mulyadi, Toa Masjid, hingga perang Rusia-Ukraina, eh NATO. 

“Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepada kamu tanda-tanda (kekuasaan)-Ku maka janganlah kamu meminta Aku menyegerakannya.” (QS al-Anbiya: 37).

Bukan saya tidak punya pendapat dan sikap, tapi sementara data yang masuk masih dianggap belum lengkap, saya memilih menyimpan dulu sikap itu dalam hati. 

Sebab sejarah mengajarkan, ketika konflik apalagi yang bersifat  politik berlangsung, betapa banyak manipulasi dan pemutarbalikan fakta terjadi. Memasukan diri dalam dukung mendukung salah satu pihak, terlebih dengan pernyataan yang vulgar, memilki konsekuensi yang tidak ringan dari segi agama. 

Apalagi ini urusan nyawa ribuan bahkan jutaan umat manusia. Tentulah malaikat akan mencatat kepada siapa kita berpihak. Iya kalau yang kita dukung ternyata berada fi sabilillah (di jalan yang diridhoi Allah), bila tidak? Maukah kita dicatat sebagai pendukung kedzaliman? 

Na'udzubillah min dzalik.

Sekali lagi ini bagi saya, bukan buat orang lain. Bila orang lain merasa yakin dengan pengetahuannya ya silahkan. Saya mungkin belum sampai pada taraf itu. Saya merasa pengetahuan ini masih belum cukup.

Apalagi, tidak urgen juga bagi orang sedunia, saya mengumumkan sikap apa tidak. Siapa sih saya? Sehingga menyatakan atau tidak menyatakan dukungan kepada salah satu pihak tidak berpengaruh apa-apa bagi orang banyak. Sebaliknya, mengikrarkan dukungan di saat pengetahuan saya belum mencukupi justeru bisa membawa mudharat bagi "amal" saya. 

“Dan manusia (sering kali) berdoa untuk kejahatan sebagaimana (biasanya) dia berdoa untuk kebaikan. Dan, memang manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS al-Isra’: 13).

Semoga Allah selalu menunjukan mana yang benar dan mana yang salah sehingga "Al wala wal Baro'" (sikap dukungan dan antipati) bisa saya letakkan pada tempat yang selayaknya. Aamiin

Samarinda, 3 Maret 2022
(Abdillah Syafei)

Share on:

Mungkin ada yang akan berkata bahwa saat ini sakit apapun juga akan dibilang corona. Orang kena panu juga kalau ke rumah sakit akan divonis corona.

Jelas sekali bahwa klaim (bahkan tuduhan) ini bukan berdasar fakta apalagi logika sehat. Apa yang dituduhkan itu hanya berdasar asumsi subjektif yang sangat tidak logis. Saya buktikan dengan fakta dan logika;

Coba saudara buka data resmi pemerintah. Yang mudah dibuktikan mungkin adalah yang di lingkup kota Samarinda misalnya. Hitung berapa jumlah pasien covid yang diumumkan bertambah setiap hari? Lalu bandingkan dengan jumlah orang sakit yang berobat ke poli-poli bahkan UGD salah satu rumah sakit saja. Tidak perlu semua rumah sakit.

Anda pasti sudah bisa memperkirakan berapa ratus atau bahkan berapa ribu orang yang sakit dan berobat ke rumah sakit setiap harinya kan? Apakah kemudian data pertambahan pasien covid-19 memang sebanyak pasien berobat tadi? Tidak kan?

Sebagaimana vonis sebagian orang bahwa sakit apapun kalau sudah ke rumah sakit pasti dikatakan corona. Maka terbukti faktanya itu tidak benar.

Cari data berapa jumlah orang yang meninggal di rumah sakit dan cek pengumuman gugus tugas penanganan covid, berapa data orang yang meninggal karena covid? Jauh sekali selisihnya.

Jadi, sampai disini sebenarnya sangat mudah membuktikan bahwa tuduhan itu BOHONG dan sangat tendensius. Dan celakanya tuduhan tidak logis itu dipercayai bukan hanya oleh orang awam, namun juga sebagian tokoh dan orang berpendidikan yang kehilangan akal sehat.

Mungkin ada pertanyaan lagi, bukankah semua pasien yang meninggal tidak ada yang murni karena corona tapi karena penyakit bawaan yang memang sudah parah?

Benar saudaraku, bahwa mayoritas pasien yang meninggal dikarenakan penyakit mereka yang memang sudah parah. Namun ini bukan menjadi bukti bahwa corona atau covid itu omong kosong. Kan para ahli sendiri sudah sering mengatakah bahwa corona virus itu memiliki efek yang tergantung dari imunitas tubuh kita?

Kalau imunitas tubuh kita baik karena memang dalam kondisi sehat dan tidak ada penyakit bawaan, maka meski sudah terinfeksi coronapun orang yang selama ini sehat akan tidak memiliki gejala. Atau kalaupun memiliki gejala akan terlihat sebagai sakit ringan saja.

Tapi bila ada penyakit bawaan yang memang sudah parah, maka ia kemungkinan akan menjadi akut bahkan berujung pada kematian ketika penyakit itu ditambah dengan aktifitas virus covid dalam tubuhnya.

Tahukah anda bahwa, juga tidak ada orang yang meninggal karena sebab langsung virus AIDS selama ini? Semua orang yang terinfeksi virus HIV meninggal adalah karena penyakit mereka yang menjadi berat dan sulit sembuh lantaran kekebalan tubuh (imunitas) mereka menjadi lemah bahkan hilang. Jadi bukan karena AIDS nya langsung.

Lalu apakah itu bukti bahwa AIDS tidak ada? Nggak begitu kan logikanya?

(Cuma copas, jadi jangan dibully ya 🙏)

Share on:


 

Ada berapa rumah sakit di Samarinda ini dan ada berapa jumlah total orang yang berobat di rumah sakit? Bandingkan dengan jumlah orang yang diumumkan oleh dinkes positif covid. Maka akan terjawab benarkah semua penyakit kalau sudah masuk RS akan dibilang covid?

Nyatanya:

Ada ribuan orang yang ke rumah sakit. Tapi yang divonis covid hanya puluhan orang.

Benarkah tuduhan bahwa Covid itu sebenarnya tidak ada? Hanya kebohongan pemerintah semata. Makanya tidak ada pejabat pemerintah dan orang rumah sakit yang kena covid?

Nyatanya:

Berapa banyak pejabat bahkan kepala dinas, kepala daerah dan pimpinan rumah sakit positif bahkan ada yang meninggal. Tak terhitung pegawai negeri dan tenaga kesehatan yang menjadi korban. Mungkinkah mereka terlibat dalam konspirasi menilep anggaran?

Katanya covid belum ada vaksin dan obatnya, lalu kenapa banyak yang di yatakan sembuh? Mari analisa dengan ilmu kesehatan.

Nyatanya:

Menurut ilmu kesehatan banyak penyakit karena virus yang sembuh karena imun tubuh meski tidak diobati. Contohnya flu juga hingga kini belum ada obatnya tapi sembuh dengan sendirinya karena imun yang menguat.

Mari kita berpikir jernih dan menggunakan akal yang sehat. Insya Allah terang benderang jawabannya.


Share on:

Seorang tokoh publik, apakah dia organisatoris, artis, politisi, apalagi mereka yang akan bersaing dalam pemilu, baik itu caleg maupun calon kepala daerah bahkan presiden, kebanyakan tidak punya waktu yang cukup untuk melakukan update pada akun media sosial mereka.

Namun mereka juga tidak mungkin untuk meninggalkan media sosial, mengingat sarana itu teramat penting untuk alat penciteraan diri dan membangun branding yang positif.

Maka kemungkinan besar, guna memenuhi kebutuhan itu ditugaskanlah admin untuk membuatkan postingan medsos agar selalu update dan tidak ketinggalan perkembangan. Terutama untuk mempublikasikan kegiatan dan sesekali menampilkan quote-quote ataupun buah pemikiran si tokoh.

Diharapkan dengan membaca akun medsos si tokoh, maka popularitas sekaligus simpati khalayak bisa diraih sehingga peluang sukses semakin meningkat. Dukungan akan mengalir berkat kepercayaan dan keyakinan masyarakat akan kualitas si calon tokoh.

Namun sayangnya, entah karena tidak paham ataukah terlalu pelit (nggak mau keluar modal), saya lihat sebagian (tidak banyak) tokoh yang postingan medsosnya justeru berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat. Ungkapannya terlihat jelek, logikanya kacau, bahasanya 'culun', bahkan cara dia menanggapi pertanyaan ataupun kritik netizen sangat tidak simpatik.

Hal ini tentu belum tentu karena pemikiran si tokoh yang jelek, atau intelektualitasnya rendah. Saya mengamati beberapa medsos tokoh yang setahu saya orangnya shaleh, otaknya cerdas, bahkan adab dan pergaulan dunia nyatanya sangat baik, namun sayang isi postingan medsosnya sangat memalukan.

Bahasanya amburadul, isi postingannya kacau bahkan responnya terhadap beberapa fenomena di masyarakat terkesan buruk. Bahasa-bahasa bijak yang mungkin dimaksudkan untuk menampakkan kecerdasan dan kearifan malah terlihat kayak orang yang tidak berpendidikan.

Hal ini bisa jadi karena ia salah memilih orang yang bertugas membantu menarasikan buah pikirannya.

Oleh karean itu admin sebuah akun medsos itu tidak hanya butuh semangat menggebu dan dukungan membabi buta pada si tokoh, tapi juga membutuhkan kemampuan menyusun narasi yang baik dan memiliki kecerdasan yang mumpuni.

Harusnya ini menjadi perhatian khusus bagi setiap tokoh publik yang memiliki akun media sosial yang dikelola oleh admin. Admin itu adalah perwakilan si tokoh dalam menyampaikan gagsan, ide bahkan respon terhadap aspirasi maupun kritik masyarakat.

Admin medsos harus orang yang punya kepekaan dan pandai menarasikan apa yang ada dalam pikiran si tokoh, bukan menarasikan yang ada dalam pikirannya sendiri. Ia harus mampu bersikap netral saat menuliskan buah pikiran si tokoh ke dalam postingan. Meskipun secara pribadi dia sendiri boleh jadi tidak sepaham dengan item yang disampaikan si tokoh, ia tak boleh merubah statemen si tokoh.

Ia bisa saja memberikan masukan kepada si tokoh bila memang merasa bahwa pendapat tokoh tersebut tidak tepat, namun ia tidak boleh merubahnya sendiri tanpa izin sang tokoh.

Jadi, bila anda saat ini adalah seorang tokoh publik, apakah tokoh masyarakat, petinggi organisasi, caleg, calon pemimpin, atau siapapun yang membutuhkan medsos sebagai alat sosialisasi dan publikasi. Kalau merasa tidak bisa mengelola sendiri akun medsos anda dan perlu memakai seorang admin. Maka carilah admin yang benar-benar mumpuni.

Admin yang mumpuni tidak hanya sekedar tahu seluk beluk pengelolaan medsos, namun juga memiliki kemampuan menyusun narasi yang baik, indah, berbobot, logis dan tidak terlihat culun atau bodoh. Si admin juga harus punya kecocokan dengan anda terutama dalam memaparkan buah pikiran anda yang ingin disampaikan ke masyarakat.

Jangan sampai gara-gara narasi yang salah anda yang seorang berhati baik disangka jahat, punya prestasi disangka bodoh, penuh semangat dan ide dalam mengabdi disangka pemalas dan tak bisa berbuat apa-apa.

Wallahu a'lam


(Abdillah Syafei)

*)Gambar dari google.

Share on:

Sahabat sekalian, apakah anda tidak percaya bahwa virus Corona itu ada dan menganggap bahwa kasus covid yang ada selama ini hanyalah rekayasa pemerintah saja? Atau bahkan anda menganggap semua ini adalah konspirasi bisnis medis tingkat dunia?

Itu adalah hak anda yang siapapun tentu tidak boleh mengganggunya. Soal keyakinan adalah wilayah pikiran yang tak bisa diatur oleh siapapun kecuali oleh orang yang memiliki pikiran itu sendiri dan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Namun ketika sudah memasuki wilayah perbuatan yang berhubungan dengan orang lain, terutama publik, maka keyakinan saudara itu tidak boleh saudara paksakan. Saudara tetap harus mengikuti (baca: bertoleransi) dengan keyakinan resmi yang dipercaya oleh lebih banyak orang lainnya.

Misalnya nih, saudara yakin bahwa memakai helm bukanlah jaminan bahwa anda akan selama saat berkendaraan. Bahkan andapun yakin bahwa sabuk pengaman di mobil tidak ada pengaruhnya terhadap keselamatan pengendara mobil tersebut. Sehingga menurut anda kedua benda itu sebenarnya tidak ada gunanya.

Silahkan berkeyakinan demikian karena itu berada di wilayah pikiran saudara. Namun bagaimanapun ketika sudah menjadi aturan resmi untuk memakai helm saat berkendaraan sepeda motor dan memakai sabuk pengaman saat mengemudi mobil, maka saudara tetap wajib mengikutinya.

Mengapa? Karena ketika sudah memasuki ranah umum, maka aturan umum wajib kita ikuti sebagai sebuah bentuk ketaatan pada hukum dan sikap tidak memaksakan kehendak pribadi kepada khalayak. Kata pepatah "dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung," artinya menghargai aturan adalah sebuah sikap mulia yang harus diambil oleh seseorang meskipun ia sendiri tak sependapat.

Demikian pula soal Corona tadi. Boleh saja anda tidak percaya, dan menganggap bahwa sebenarnya memakai masker itu tak ada gunanya. Namun, saat itu sudah disepakati banyak orang, apalagi telah ditetapkan sebagai aturan oleh pihak yang berwenang, maka memakai masker menjadi sebuah kewajiban yang harus anda taati terutama saat berada di wilayah publik.

Bahkan sesuatu yang asalnya tidak wajib saja jika sudah tertuang kedalam kesepakatan dan atau dalam aturan hukum, maka ia wajib ditaati. Misalnya seragam di sekolah, lembaga atau bahkan kelompok independen lainnya.

Kita sepakat tentunya bahwa warna apapun pakaian yang kita gunakan, seragam atau tidak seragam antara satu anggota dengan anggota lainnya, tidak ada hubungan langsung dengan kinerja dan kualitas intelektual anggota kelompok atau lembaga tersebut. Tapi saat aturan sudah dibuat, bahwa di sekolah, lembaga atau organisasi untuk menggunakan seragam, warna, bahkan model tertentu, maka ia menjadi wajib buat diikuti.

Namun terlepas dari semua itu apakah keyakinan anda selama ini bahwa Corona adalah hoax semata, bahwa itu hanya mengada-ada, bahwa orang kena panu pun kalau sudah ke rumah sakit pasti akan divonis Corona, adalah benar adanya. Sudahkah anda melakukan penelitian yang valid dan berdasar data akurat?

Ataukah klaim itu hanya berdasar isu di media sosial atau malah hanya berdasar sampel penyimpangan yang ada di beberapa kasus kecil namun digunakan untuk mengeneralisir kasus yang banyak?

Insya Allah saya ingin sedikit memberikan masukan berupa argumentasi pembanding di tulisan selanjutnya. Tidak ada paksaan buat anda atau siapapun buat mengikuti argumentasi saya ini, karena benar bahwa kita sama-sama tidak melihat wujud virusnya yang sangat kecil itu. Sehingga untuk membuktikan secara kasat mata tentu tidak mungkin.

Namun saya yakin bahwa semua kita sama-sama memiliki akal pikiran yang bisa kita gunakan buat menganalisa fenomena-fenomena yang terjadi di hadapan kita. Insya Allah.

Wallahu a'lam



Share on:

Begitu bunyi kalimat sebuah meme yang melintas di beranda media sosial saya. Sejenak saya terdiam dan terenyuh membayangkan kondisi para orang tua yang saat pandemi ini tengah berjuang menyambung hidup keluarga seraya harus berurusan dengan dunia Maya yang boleh jadi selama ini belum pernah dilihatnya.

Bukan sekedar sekarang harus membagi perhatian antara dunia nyata dengan dunia maya, tapi mereka juga harus merogoh kantong dalam-dalam agar sang buah hati bisa tetap sekolah di tengah masa pandemi ini. Ya, dengan belajar secara online. Solusi era milenial.

Belajar online, sepertinya memang satu-satunya solusi di saat dimana pembelajaran ofline tak mungkin dilakukan karena ancaman pandemi covid-19. Dengan interaksi dan penugasan-penugasan melalui media online kegiatan belajar mengajar tetap lancar.

Benarkah? Benarkah pembelajaran online merupakan solusi pendidikan di masa pandemi? Mungkin benar bagi sebagian orang, terutama mereka yang memang dalam kesehariannya terbiasa dengan dunia Maya. Apalagi keluarga yang setiap anggotanya masing-masing memiliki gadget.

Namun menjadi tidak mungkin, atau minimal sangat 'menyiksa' bagi keluarga miskin, yang jangankan membeli kuota, HP pintar saja mereka tidak punya.

Ya, kita banyak mendengar keluh kesah akan kesulitan sebagian orang tua yang kesulitan bahkan tak sanggup menyediakan sarana untuk anaknya mengikuti pelajaran online.

Bukan satu-dua, tapi mungkin ribuan. Bahkan mereka yang kelas menengah dan tidak gaptek saja tak sedikit yang bercerita soal penderitaan mereka di masa pandemi ini.

Ini bukan sekedar gaptek atau tidak gaptek, tapi lebih dalam lagi adalah perkara ekonomi. Dimana pada kebanyakan keluarga, jangankan untuk membeli HP dan kuota, untuk makan (menyambung hidup) saja mereka kesulitan.

Saya sendiri, yang mungkin belum bisa disebut fakir miskin karena masih bisa membayar zakat fitrah, merasakan ada beban berat yang tiba-tiba secara bertumpuk ditimpakan ke pundak ini melebihi dari yang biasa saya pikul.

Meski sudah biasa menggunakan HP pintar, bahkan bisa dibilang pekerjaan saya sehari-hari tak terlepas dari aplikasi di ponsel, namun tidak seluruh anggota keluarga saya memilikinya.

Terutama anak-anak saya yang masih duduk di bangku SD dan SMP. Mereka belum saya belikan HP Android dan yang sejenis. Disamping saya masih memandang mudharat karena belum dewasanya mereka, paket data yang harus disediakan juga sangat boros, bila semua anggota keluarga menggunakan HP yang menggunakan jaringan internet.

Ketika pandemi mendadak hadir di negeri ini, lalu kita para orang tua harus melakukan WFH (work from home), terasa sekali beban pengeluaran untuk kuota internet mulai meningkat. Apalagi kemudian serentak anak-anak harus belajar secara online, maka beban itu menjadi semakin berat dan menumpuk.

Akhirnya perlu membeli beberapa HP baru dan menyiapkan anggaran pembelian kuota internet yang bekali-kali lipat dari biasanya. Apalagi HP yang selama ini saya dan anak saya pakai juga pas kebetulan rusak dalam waktu yang hampir bersamaan.

Kalau anda pegawai biasa seperti saya pasti bisa membayangkan bagaimana rasanya.

Bagaimanakah pula mereka yang memang sehari-harinya, jangankan buat kuota, beli beras saja kesulitan karena penghasilan memang minus. Apalagi dalam kondisi yang terdampak pandemi ini, dimana usaha kebanyak orang mengalami penurunan yang sangat signifikan. Begitu berat dan susahnya mereka bila harus menambah beban dengan anggaran pembelian HP dan kuota yang tidak bisa sekali beli saja.

Tampaknya harus ada kesadaran di semua pihak terutama pemangku kebijakan untuk merundingkan solusi yang paling pas, agar bagaimana pendidikan tetap bisa berjalan dan masyarakat tidak menjadi berat beban kehidupannya.

Saya yakin di pemerintahan maupun lembaga-lembaga non pemerintah masih memiliki banyak pemikir jenius yang tentu bisa merancang solusi untuk mengatasi kebuntuan ini. Apalagi di negeri ini begitu banyak orang-orang cerdas yang tentunya sangat memahami bagaimana kehidupan masyarakat kecil.

Pasti ada terobosan yang brillian yang dapat dihasilkan oleh manusia-manusia pilihan dari ratusan juta penduduk yang ada di Nusantara. Insya Allah.

Share on:


SAMARINDA: Kebijakan Belajar di Rumah yang saat ini dilakukan dalam dunia pendidikan, membuat banyak sekolah swasta khususnya tingkat TK dan PAUD mengalami situasi dilematis. Di satu sisi pemberlakuan belajar online (di rumah saja) menyebabkan banyak orang tua yang tidak mau memasukan anaknya ke lembaga pendidikan prasekolah ini.

Sementara itu dari sisi sekolah, hal ini pastilah menyebabkan menurunnya pendapatan, sementara mereka harus memikirkan gaji guru. Memberhentikan guru jelas merupakan pilihan yang teramat berat juga bagi para pemilik TL dan PAUD.

Berdasarkan pantauan media ini ke beberapa lembaga pendidikan di kota Samarinda, hal ini merata terjadi di mana saja. Apalagi TK dan PAUD bisa dibilang bukan masuk dalam ranah pendidikan dasar yang merupakan kewajiban.

Rata-rata sekolah swasta khususnya tingkatan PAUD mengalami kondisi dilematis ini. Dampak covid-19 dengan konsekuensi harus belajar di rumah membuat pihak penyelenggara pendidikan prasekolah harus memutar otak untuk menjaga kelangsungan lembaganya.

Bila mereka tak juga menemukan solusinya, jelas akan ada banyak pendidikan prasekolah yang terancam gulung tikar. Padahal nyatanya jumlah anak-anak yang  membutuhkan pendidikan sangatlah besar. Hanya saja memang sangat mengkhawatirkan bila dipaksakan turun ke sekolah sebagaimana biasa. (Dil)

Share on:

*Rela Jemput Bola Informasi Publik Ke Tiap OPD

SAMARINDA. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Samarinda, Aji Syarif Hidayatullah menyebut bukan soal penghargaan yang paling utama dikejar, sehingga rela memerintahkan stafnya mendatangi sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) demi meminta data informasi publik. Melainkan amanat Undang-Undang (UU) Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) yang mengharuskan semua badan publik untuk menyampaikan data agar bisa diakses dan dimonitor secara luas oleh masyarakat umum.

"Jadi sekali lagi, saya bukan orang yang gila penghargaan. Tapi setidaknya, dengan adanya penghargaan, kerja kita terukur dan punya tujuan yang jelas. Artinya, kita punya target yang jelas untuk meraih penghargaan, sehingga secara otomatis kita punya program kerja yang tersusun dan terencana secara sistematis. Kita juga akan terus bergerak untuk berjalan maju," ujar Dayat, sapaan akrab Aji Syarif Hidayatullah saat membuka kegiatan evaluasi Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) bersama segenap perwakilan OPD di ruang Command Center, Selasa (26/11) siang.

Selama ini, ia mengaku terus memonitor Data Informasi Publik bersama Kabid Pengelolaan dan Pelayanan Informasi Diskominfo Kota Samarinda, Euis Eka April Yani di website PPID. Terutama untuk melihat informasi publik mana saja dari tiap OPD yang belum ditayangkan.

"Tapi Alhamdulillah, sebagian besar sudah masuk, sehingga kita bisa meraih penghargaan sebagai PPID terbaik se-Kaltim. Ini bukan penghargaan buat Diskominfo, tapi untuk Pemkot Samarinda. Diskominfo hanya sebagai fasilitator. Terima kasih atas dukungan segenap OPD yang ada. Tinggal beberapa OPD saja yang belum lengkap. Karenanya saya perintahkan staf untuk ke lapangan buat jemput bola. Tidak masalah kami capek, yang penting informasi publik bisa tersaji dengan baik," ungkapnya.

Dayat mengaku cukup sering menyampaikan permasalahan informasi publik ini di sejumlah forum resmi bersama para pimpinan OPD. Bagi OPD yang tidak mengirimkan Data Informasi Publik, supaya tak kaget bila suatu saat disengketakan publik hanya karena kesulitan akses mendapatkan informasi dimaksud.

"Kalau ada informasi publik yang tidak disampaikan, yang digugat justru bukan OPD, tapi malah Kepala Daerah (Walikota, red). Oleh itu, harus kita pahami bersama soal ini. Kalau memang itu data yang dikecualikan karena bersifat rahasia, maka harus melalui uji konsekuensi," katanya.

Sementara Ketua Komisi Informasi (KI) Kaltim, Muhammad Khaidir Ali memberikan apresiasi untuk PPID Samarinda. Selain karena penghargaan yang diraih, juga karena semangatnya yang begitu tinggi, sehingga bisa menjadi yang terbaik di Kaltim selama 2 tahun belakangan.

"Tapi jangan terlena, harus waspada. Karena ada banyak daerah yang sedang mengincar dengan berbagai macam inovasi. Samarinda juga harus bisa berinovasi agar bisa tetap jadi yang terbaik," pesannya.

Senada dengan Dayat, Khaidir juga menyebut keterbukaan informasi publik ini merupakan amanat konstitusi. Tidak hanya dalam UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang KIP. Tetapi juga termaktub jelas dalam pasal 28 f amandemen UUD 1945.

"Jadi bukan hanya di UU, tetapi juga diatur jelas dalam UUD yang menjadi roh dari segala produk UU di negeri ini. Siapapun dia, dari manapun asal dan latar belakangnya, sepanjang dia adalah Warga Negara Indonesia, maka dia berhak untuk mengetahui sejumlah informasi publik yang ada," pungkas Haidir. (kmf3)

Penulis: Herman --Editor: Doni

Siaran Pers No.852/KM/KOMINFO/XI/2019
Tanggal 26 November 2019
Share on:

Seseorang update status soal konflik rumah tangga di facebook itu sebenarnya bukan untuk menyelesaikan masalah, tapi hanya memuaskan perasaan dalam hati. Dan pasti akan berakhir dengan penyesalan. Cepat atau lambat. 

Tidak ada masalah yang menjadi selesai dengan mengumbarnya kepada khalayak. Yang ada justeru memperlebar "cacat" memperbanyak komentar dan membuka keburukan diri sendiri yang berujung pada jatuhnya harga diri. 

Masalah rumah tangga, kantor, organisasi bahkan diri sendiri yang tidak layak dikonsumsi publik selayaknya diselesaikan dengan cara yang baik. Kalaupun harus mengambil jalan paling ekstrim, ya dilaporkan ke aparat penegak hukum sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Tentu kalau bisa janganlah smpai kesana. 

Cara yang paling bijak adalah dengan mengkomunikasikan segala hal yang menjadi permasalahan. Bilapun pihak-pihak yang sedang berkonflik sulit untuk saling mengungkapkan isi hatinya maka sebaiknya dicari mediator. 

Mediator yang dipilihpun tidak asal pilih saja. Alangkah bagusnya sosok yang dituakan atau orang yang dihormati oleh para pihak yang bermasalah. Nah, kepada tokoh inilah tempatnya semua pihak curhat menyampaiikan 'kebenaran' versinya masing-masing. Bukan curhat di medsos yang malah mengundang komentar provokasi.

Sering orang-orang yang berseteru itu sama-sama merasa benar. Mereka hanya tidak menemukan cara maupun narasi yang bisa menyelaraskan kebenaran tersebut. Maka dengan tokoh yang bijaksana sebagai mediator itulah diharapkan kebenaran dari dua versi ini bisa dikompromikan dan salahpaham yang terjadi bisa diluruskan. Insya Allah.

Wallahu a'lam

( Abdillah Syafei) 



Share on:

Jangan dikira bahwa yang namanya ibadah itu hanya "ritual" shalat, puasa ataupun ibadah haji. Urusan dunia, bahkan percintaan sekalipun bisa bernilai ibadah di sisi Allah bila dilakukan sesuai dengan ajaran agama. 

Islam mengajarkan bahwa kedudukan seorang wanita, termasuk istri adalah sangat istimewa. Kehadirannya dalam kehidupan seorang lelaki menjadi penyempurna kehidupan beragama si lelaki tersebut. Artinya, pernikahan adalah ibadah yang sangat penting dalam ajaran agama. 

Kembali ke soal istri. Istri adalah amanah besar yang dibebankan ke pundak seorang lelaki (suami). Ia tidak hanya boleh bersenang-senang dan berkasih sayang secara seksual, namun juga ada tugas dan tanggung jawab. Lelaki wajib menafkahi, mendidik dan mengajak serta mendampingi istrinya dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Ada kewajiban yang bertambah pada diri seorang lelaki ketika dia telah menikahi seorang wanita. Ia telah mengambil alih sebagian besar tugas penjagaan, pendidikan.dan pemenuhan kebutuhan (jasmani-rohani)dari orang tua si perempuan. Dan itu tentu sangat berat.

Namun bagi laki-laki yang beriman kepada Allah, limpahan tanggung jawab tersebut pasti akan dilaksanakan dengan sepenuh hati. Pernikahan adalah ibadah maka membimbing dan mengayomi istri merupakan rangkaian penting bahkan utama dalam ibadah tersebut.... Wallahu a'lam

Samarinda, 25 Mei 2019

(Abdillah Syafei)



Share on:

Saya adalah salah seorang saksi mata kunjungan Presiden BJ Habibie ke Bengkuring, meskipun hanya bisa melihat acara dari jauh.  Waktu itu tanggal 5  Agustus 1999 saya sudah menjadi guru di satu-satunya sekolahan yang ada di komplek Perumnas Bengkuring yakni SMPN 29 Samarinda. 

Sempat setahun  lebih merasakan berangkat dan pulang mengajar melewati jalan perumahan yang becek kalau hujan, saya sangat bersyukur dengan kehadiran beliau. Bagaimana tidak, menjelang kunjungan presiden ke-3 ini jalan perumahan yang sering tidak bisa dilewatipun dalam waktu singkat sudah beraspal hotmix. Mulus hingga ke dalam perumahan. 

Padahal sebelumnya untuk bisa sampai ke SMPN 29 Samarinda yanga da di tengah komplek kami butuh perjuangan berat. Hujan sedikit saja alamat sekolah bisa libur karena guru maupun siswa sama-sama tidak bisa menuju lokasi. 

Saya masih ingat bagaimana perumahan yang semula sepi, fasilitasnya masih minim berubah drastis menjadi terlengkapi aneka kebutuhannya. Orangpun berbondong-bondong membeli rumah di sini sehingga perkembangan pemukiman eks warga bantaran sungai karangmumus ini menjadi sangat pesat. 

Di awal saya bertugas di sini harga rumah masih sangat rendah, sekitar 7 jutaan saja. Banyak warga yang menjual jatah rumah mereka. Namun setelah kunjungan pak Habibi yang diiringi makin lengkapnya fasilitas di sini harga rumah meningkat pesat. 

Kembali ke kunjungan pak Habibie, saya termasuk yang tidak mengetahui kalau saat itu beliau didemo oleh beberapa elemen masyarakat dan mahasiswa. Sebagai orang yang tengah berada di dalam komplek saya hanya melihat suasana yang meriah dan gembira. Bahkan tak terlihat pengamanan yang terlalu ketat. 

Namun selepas pak Habibi dan rombongan meninggalkan komplek perumahan barulah saya sadar bahwa pengamanan saat itu sangat ketat. Rupanya sekeliling perumahan yang sangat luas itu sudah dikepung oleh aparat polisi dan TNI secara rahasia. Buktinya setelah rombongan presiden tidak ada, ratusan atau bahkan ribuat aparat bermunculan dari balik pohon dan semak di sekitar komplek. 

Tampaknya sejak malam hingga selesai acara kunjungan presiden polisi dan tentara itu sudah bersembunyi. Tampak sekali kondisi mereka yang keluar dari persembunyiannya di rawa-rawa dengan pakaian belepotan lumpur. Dan dalam sekejap dalam komplek sudah dipenuhi aparat.

Penulis: Abdillah Syafei
(Mantan Wartawan Poskota Kaltim)

Share on:
  • ← Previous post
  • This blog is to provide you with daily outfit ideas and share my personal style.
  • Hi, my name is John. I'mstudent originally from Peru, living in New York.
140x140

John Doe

Founder of the website
Facebook Twitter Gplus RSS
Labels
  • Advertorial
  • Agama
  • astrologers
  • astrology
  • Balikpapan
  • Banjar
  • Banjir
  • Bencana
  • blood sugar
  • blood sugar control
  • body weight
  • Budaya
  • business
  • Catatan Ismunandar
  • chronic conditions and diseases
  • Covi-19
  • diabetes
  • diet and nutrition
  • donations
  • DPRD Kaltim
  • Ekonomi
  • entertainment
  • exercise
  • exercise equipment
  • fitness
  • food and drink
  • government
  • Headline
  • health
  • health & fitness
  • health & fitness
  • health advice
  • health and exercise
  • health and healthcare economics
  • health benefits
  • health insurance
  • health risks
  • health tips
  • healthcare and medicine
  • healthcare industry
  • heart diseases
  • Hedline
  • Hiburan
  • Hikmah
  • horoscopes
  • Hukum
  • illness
  • incident
  • insurance
  • Internasional
  • Iptek
  • jobs and careers
  • Kalteng
  • Kaltim
  • Kasus
  • Keamanan
  • Kependudukan
  • Kesehatan
  • Kominfo
  • Komunitas
  • Kota
  • Kriminal
  • Kukar
  • Kuliner
  • Kursus
  • Kutim
  • lifestyle
  • Lingkungan
  • Literasi
  • local news
  • Mahulu
  • medical conditions and diseases
  • medicine and healthcare
  • Medsos
  • metabolism
  • Motivasi
  • Nasional
  • news
  • Nusantara
  • Olah Raga
  • Olahraga
  • Opini
  • Ormas
  • Paser
  • Pejabat
  • Pembamgunan
  • Pembangunan
  • Pemerintahan
  • Pemkot
  • Pendidikan
  • Perpustakaan
  • PKK
  • politics
  • politics and government
  • Politik
  • PPU
  • Prestasi
  • public health
  • Ramadhan
  • running and fitness
  • sagittarius
  • Samarinda
  • Sastra
  • Sejarah
  • Sosiail
  • Sosial
  • spirituality
  • sports
  • sports injuries
  • Tokoh
  • Video
  • Wanita
  • working out
latest posts
latest comments
Hercules Design @Hercules_group
@billykulpa Please contact us via info@hercules-design.com
Reply Retweet Favorite

06 May 2014

Hercules Design @Hercules_group
@billykulpa Please contact us via info@hercules-design.com
Reply Retweet Favorite

06 May 2014

Hercules Design @Hercules_group
@billykulpa Please contact us via info@hercules-design.com
Reply Retweet Favorite

06 May 2014

This blog is to provide you with daily outfit ideas and share my personal style. This is a super clean and elegant WordPress theme for every bloggers. Theme is perfect for sharing all sorts of media online. Photos, videos, quotes, links... etc.

Facebook Twitter Flickr Linkedin Gplus Youtube

Media Ibukota

Aneka Informasi penting nasional dan dunia.

  • Home